Misteri Nusantara – Kamar Hotel Nomor 88 Hari ini adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu karena akhirnya aku bisa liburan ke kota Bandung.

Kembali ke Bandung
Namaku Siska. Dulu, aku tinggal lama di Bandung, tetapi karena ayahku bekerja di luar negeri, aku ikut beliau. Sudah hampir lima tahun aku tidak pulang ke Indonesia. Kini, karena kampusku memberikan libur panjang, aku berniat untuk menghabiskan waktu liburan di Bandung.
Setibanya di bandara, aku segera memesan taksi untuk mengantarkanku ke hotel. Aku meminta sopir taksi untuk membawaku ke hotel yang cukup mewah tetapi masih terjangkau harganya.
“Pak, ke Pasteur ya,” ujarku kepada sopir taksi.
Dalam perjalanan, aku menghubungi teman-temanku yang masih tinggal di Bandung, salah satunya Intan. “Aku lagi di Bandung nih. Eh serius? Iya, makanya ketemuan yuk!” ujarku di telepon.
“Hu uh… Oke deh,” jawab Intan di ujung telepon.
“Ya udah, gue SMS alamat hotelnya ya. Bye,” pungkas aku sambil menutup telepon.
Sampai di Hotel
Sesampainya di depan hotel, aku langsung memesan kamar. Aku ingin memilih kamar di lantai bawah supaya tidak capek naik-turun, tetapi ternyata hanya kamar di lantai atas yang masih tersedia. Aku sedikit kecewa, tetapi daripada tidak ada tempat tinggal, aku pun menerimanya dan segera menuju lift.
Sesampainya di lantai atas, aku mendapati suasana yang sangat sepi. “Hm… Memang benar-benar kosong sih. Mungkin masih pada tidur kali ya?” gumamku dalam hati.
Sambil berjalan mencari kamar nomor 88, aku mengambil ponsel untuk mengabari Intan. “Tan, aku udah sampai di hotel nih. Hotel di jalan Pasteur. Kamarnya nomor 88 ya,” ucapku di telepon.
“Hu uh… Oke… Oke… See you…” jawab Intan.
Ketika aku tiba di depan kamar nomor 88, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang menyanyi dari kamar sebelah. Aku merasa merinding. “Ih… Dasar orang aneh!” pikirku sambil membuka pintu kamar.
Begitu masuk, aku langsung membantingkan badan ke kasur. Sambil berbaring, aku membuka ponsel untuk memperbarui status di Path. “I am at hotel… Hello Bandung, aku kangen banget!”
Setelah itu, aku mulai membereskan pakaian di koper. Aku menggantung satu per satu baju yang akan kupakai selama di Bandung. Saat sedang berdiri di depan cermin mencoba beberapa baju, tiba-tiba… aku melihat sekelebat bayangan di belakangku masuk ke dalam kamar mandi! Aku langsung berbalik dengan cepat.
“Tan… Intan… Kok sudah sampai? Cepat banget!” seruku, mengira itu adalah Intan.
Namun, setelah aku melangkah perlahan ke kamar mandi dan mengintip ke dalam, tidak ada siapa-siapa. Aku segera menutup kembali pintu kamar mandi dan menyalakan semua lampu di kamar untuk mengusir rasa takutku.
Gangguan Makin Menjadi
Saat aku masih mencoba menenangkan diri, ponselku berbunyi. Aku buru-buru mengambilnya, ternyata ada komentar dari teman di Path. “Gila, berani sekali kau, Sis, tidur di hotel itu sendirian… Hahaha…”
Aku hanya tersenyum sinis. Temanku itu memang hobi menakut-nakuti orang.
Singkat cerita, jam menunjukkan pukul 5 sore, tetapi Intan belum juga datang. Aku akhirnya meneleponnya lagi.
“Halo, Tan… Kamu di mana?”
“Tan… Ha… Halo… Hm… Suaranya gak jelas…”
“Halooo… Kamu di mana sih? Tan… Tan, dengerin… Aku nunggu di hotel. Cepetan ke sini!”
“Halo, Tan… Tan…?” Aku mulai gelisah. Mungkin dia masih di jalan.
Ketika aku sedang menonton TV, tiba-tiba… “Ting Tong…” suara bel kamarku berbunyi. Aku langsung berlari menuju pintu dan mengintip dari lubang kecil di pintu untuk melihat siapa yang datang. Itu Intan! Aku langsung membuka pintu dan memeluknya erat.
“Intan! Huhu… Aku kangen banget!” seruku penuh semangat. “Masuk… Masuk, Tan…”
Namun, saat Intan masuk dan meletakkan tasnya, ada sesuatu yang aneh. “Tan… Kok diem aja sih? Gak kangen ya sama aku? Intaan…?” tanyaku heran.
Intan hanya tersenyum dan tiba-tiba memelukku erat. “Aku nginep di sini ya,” katanya dengan suara pelan.
Aku senang mendengarnya. Namun, ketika aku menyentuh tangannya, aku merasakan sesuatu yang dingin. “Tan… Tangan kamu kok dingin banget? Emang di luar hujan ya?”
Aku mencoba bercanda untuk mencairkan suasana. “Euh… Lih… Mana bau lagi… Hahaha… Baru kecemplung got ya? Ganti baju gih!” candaku.
Intan hanya tertawa kecil. Tapi… ketawanya terdengar aneh. Aku tahu betul, Intan biasanya tertawa terbahak-bahak, tapi kali ini… suara tawanya lebih mirip… kuntilanak! “Hihihihihi…”
Puncak Teror
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Aku dan Intan bersiap tidur. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Aku bangun dan segera mematikan keran air di kamar mandi.
Setelah itu, aku kembali ke tempat tidur. Aku melihat Intan sudah tertidur pulas. Aku menarik selimutnya perlahan. Tapi, anehnya, aku sama sekali belum mengantuk.
Menjelang tengah malam, aku masih terjaga dan sibuk bermain ponsel. Tiba-tiba…
“Uhuk… Uhuk…”
Suara batuk Intan mengejutkanku. “Ya ampun, Tan. Kaget aku! Kamu gak apa-apa, Tan?”
Intan tidak menjawab. Dia hanya terdiam dan kembali tidur.
Tak lama kemudian, suara air di kamar mandi kembali terdengar. Aku menggerutu kesal. “Kenapa sih itu air di kamar mandi? Berisik banget!”
Aku mengambil ponsel dan menyalakan senter. Saat hendak mematikan air di kamar mandi, tiba-tiba… pesan masuk dari Intan.
“Sis, sorry gak bisa ke sana sekarang. Aku masih ada kerjaan di kampus. Besok pagi aja deh aku ke sana. Maaf ya, sampai ketemu besok!”
Darahku langsung membeku. Badanku gemetar. Terus… yang tidur di sebelahku tadi itu SIAPA?!
Aku berbalik ke kamar. Dan… sekarang aku melihat… ada… KUNTILANAK… duduk di kasurku!
“AAAAAA!”

Keesokan Harinya
Aku terbangun di lobi hotel, dikelilingi banyak orang. Salah satu pengurus hotel memberiku air minum. Aku langsung menceritakan semuanya.
“Sebenarnya, kamar itu memang ada yang bunuh diri di sana,” katanya. “Kamar itu sudah lama tidak dipakai. Kamu SALAH MASUK KAMAR!” Demikianlah Misteri Nusantara – Kamar Hotel Nomor 88.
=== PREDIKSI HONGKONG JITU HARI INI ===
PAUS4D : Platform Hongkong Amanah dan Terpercaya Sejak 2014
Berapapun KemenanganMu, Pasti Dibayar Lunas
Klik Disini, Daftar Sekarang
Tinggalkan Balasan