Misteri Nusantara – Tersesat di Makam Keramat Pengalaman ini masih terasa nyata hingga sekarang. Namaku Dani, dan cerita ini terjadi beberapa bulan lalu, saat aku pulang dari rumah temanku, Andri, di Desa Sukamaju. Karena satu dan lain hal, aku terpaksa melewati sebuah kompleks pemakaman keramat yang terkenal angker.
Malam yang Tidak Biasa
Hari itu, aku sedang berkunjung ke rumah Andri untuk sekadar bersilaturahmi. Suasana rumahnya hangat, dan aku sebenarnya berniat menginap karena malam semakin larut. Namun, aku teringat janji pada ibuku untuk mengantarnya ke pasar kota esok pagi. Mau tak mau, aku harus segera pulang.
“Dani, yakin nggak mau nginap? Udah malam banget, loh,” ujar Andri sambil menyeruput kopi.
“Nggak bisa, Ndri. Besok pagi aku harus ke kota. Doain aja jalannya aman,” balasku sambil mengenakan jaket.
Setelah berpamitan, aku langsung menyalakan motorku. Jalanan terasa lengang, dan aku berharap bisa sampai rumah dalam waktu singkat.
Jalan yang Ditutup
Namun, rencana tidak selalu berjalan mulus. Saat tiba di pertigaan jalan menuju rumahku, aku melihat plang penutupan jalan. Ternyata ada acara hajatan besar, dan jalan itu tidak bisa dilalui.
“Duh, kenapa harus sekarang sih jalannya ditutup,” gumamku kesal.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengambil rute alternatif, yang berarti melewati kompleks pemakaman keramat di Desa Sukahening. Pemakaman itu dikenal angker karena menjadi tempat peristirahatan para tokoh sesepuh desa. Banyak cerita mistis yang beredar tentangnya, tapi aku berusaha mengabaikan rasa takut dan melanjutkan perjalanan.
Memasuki Pemakaman
Aku memutar arah dan memasuki gerbang pemakaman. Suasana berubah drastis—gelap, sunyi, hanya suara jangkrik yang menemani. Aku menenangkan diri dengan membaca doa dalam hati.
“Permisi… kulo nuwun,” ucapku pelan setiap melewati deretan makam.
Namun, setelah beberapa menit, perasaan aneh mulai menghantuiku. Biasanya, waktu yang diperlukan untuk melintasi pemakaman ini tidak lebih dari satu menit. Tapi, sudah hampir lima menit, aku belum juga melihat pintu keluar.
“Kenapa rasanya jadi jauh begini?” pikirku dengan cemas.
Aku memperlambat laju motor sambil mengamati sekitar. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul seorang pria tua dengan langkah pelan. Dia mengenakan baju putih kusam dan membawa tongkat kayu.
Pertemuan dengan Pria Misterius
Pria itu mendekat, wajahnya terlihat samar dalam temaram lampu motor. “Mau ke mana, Nak?” tanyanya dengan suara berat.
Aku mencoba bersikap biasa. “Mau keluar, Pak. Kok jalannya nggak ketemu-ketemu ya?” tanyaku sambil memaksakan senyum.
Pria itu mengangguk kecil. “Pintu keluarnya memang sering berubah-ubah. Kalau mau, saya antar,” ujarnya.
Awalnya aku ragu, tapi pikiranku yang kebingungan membuatku setuju. “Baik, Pak. Tolong antarkan saya.”
Pria itu berjalan di depan, sementara aku mengikuti dari belakang. Namun, semakin jauh kami berjalan, suasana semakin aneh. Tidak ada tanda-tanda pintu keluar, hanya deretan makam yang terlihat tak berujung.
“Masih jauh, Pak?” tanyaku dengan nada mulai panik.
Pria itu berhenti sejenak dan berbalik menghadapku. Wajahnya tampak lebih jelas—matanya kosong dan senyumnya lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia. “Sudah dekat. Tapi kenapa harus buru-buru? Menginap saja di sini malam ini,” katanya sambil tertawa pelan.
Aku tercekat. Sebelum sempat merespons, pria itu berjalan ke arah sebuah makam, kemudian tubuhnya perlahan menghilang ke dalam tanah.
Ketakutan yang Memuncak
Seluruh tubuhku gemetar, dan tanpa sadar aku melepaskan motor hingga terjatuh ke tanah. Nafasku tersengal-sengal, dan pandanganku gelap. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena setelah itu aku pingsan.
Ketika terbangun, sinar matahari sudah menyinari wajahku. Betapa terkejutnya aku mendapati diriku sedang terbaring di atas sebuah makam. Di sekitarku, tidak ada siapa pun, hanya motor yang tergeletak tak jauh dariku.
Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan menyalakan motor. Aku melaju kencang keluar dari pemakaman, akhirnya menemukan pintu keluar yang entah bagaimana berada di depanku.
Tinggalkan Balasan